Nabi Nuh dan Nabi Muhammad

Nabi Nuh dan Nabi Muhammad

Dibaca : 6 menit


لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ

Bagi Jamaah majelis tahlil bumi palapa potongan ayat ini tentu sangat familiar dan tentu banyak yang hafal

Arti tekstualnya adalah “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya
Ibnu katsir dalam tafsirnya menjelaskan
Orang yang beriman percaya kepada semua nabi dan semua rasul. Mereka tidak membeda-bedakan seseorang pun di antara mereka dari yang lainnya. Mereka tidak beriman kepada sebagian dari mereka, lalu kafir (ingkar) kepada sebagian yang lain.

 

Jadi yang tidak boleh dibedakan adalah iman kita kepada para Rasul
Sedangkan para Rasul sendiri tentu punya perbedaan sesuai karakter masing masing dalam menyampaikan risalah

Silahkan dilanjut untuk mengetahui sedikit tentang kemuliaan Nabi Muhammad dibanding Nabi yang lain

Beberapa perbedaan itu adalah sebagai berikut

 

NABI NUH

Nabi Nuh melihat bahwasanya orang kafir akan tetap kafir, demikian pula anak orang kafir akan tetap kafir. Mereka juga akan menyesatkan hamba Allah yang beriman. Maka Nabi Nuh meminta kepada Allah untuk menurunkan adzab bagi kaumnya yang enggan beriman

Surat Nuh Ayat 27

“Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.”

Surat Asy-Syu’ara Ayat 117-118

Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; Maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku".

 

NABI MUHAMMAD

Nabi Muhammad adalah manusia paling mulia. Sedikit hal yang dapat menunjukan kemuliaan Nabi adalah sebagai berikut

Pertama

Nabi berusaha mengajak iman walau itu dalam kondisi minimum

Yang penting beriman dulu. Banyak riwayat yang menceritakan Nabi berusaha mengimankan seorang hanya dengan syarat yang tidak seberat yang kita pahami saat ini, misal masih boleh minum, ada riwayat yang penting dia jujur dan banyak riwayat lain.

Hadits yang membahagiakan kita adalah barangsiapa mengucap Laa ilaha illallah masuk surga.

Jangan di balik….. mengucap Laa ilaha illallah masuk neraka.

 

Kedua

Nabi menyatakan agar menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Banyak riwayat yang menceritakan bahwasanya Nabi selalu berusaha umatnya menjadi lebih baik. Hari ini lebih baik dari hari kemarin. Meski hanya meningkat 1 setrip, hanya 1 point, yang penting lebih baik. Dari yang sebelumnya ga sholat, jadi mau sholat meski cepet, dari yang sebelumnya ga ke masjid jadi mau ke masjid meski mungkin hanya hari pertama ramadhan.

Salah satu cerita di kalangan islam adalah seorang bernama nu’aiman. Beliau ini sahabat Nabi, yang masih gemar minuman khamr. Nu’aiman cinta kepada Nabi, dan Nabipun cinta pada nu’aiman.

Jadi jangan kaget kalo misal zaman sekarang menemukan orang masih minum khamr kok cinta Nabi, hei… cinta nabi mbok ya jangan di monopoli, yang lain juga punya hak, meski masih minum

 

Ketiga

Nabi berpandangan jauh ke depan,bahkan terhadap orang kafir

Beginilah Nabi mendoakan umatnya yang kafir ketika diajak masuk islam masih belum mau

''Allahumma ihdi qawmiy, fa innahum laa ya'lamun.'' (Ya Allah, tunjukilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui)

Bahkan ketika pada akhirnya kekeuh belum masuk islampun Nabi masih berharap keturunan mereka yang menjadi muslim, seperti harapan nabi

“Aku hanya berharap kepada Allah Subhaanahu Wata'ala, seandainya saat ini mereka tidak menerima Islam, semoga kelak di antara keturunan mereka akan lahir orang-orang yang menyembah dan beribadah kepada Allah

Lihat perbedaan signifikan di sini dibandingkan dengan cara pandang Nabi Nuh

 

Keempat

Bahkan dalam kondisi akhir yang pasrah Nabi masih “merayu” Allah

Do’a yang masyhur yang dibaca Nabi terkait ini adalah

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

 

 

Kelima

Tentang Hidup sesudah mati

Ini adalah peristiwa yang benar-benar menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah manusia yang paling mulia dibanding manusia bahkan Nabi dan Rasul lain. Saat Nabi Adam mengatakan belum pernah melihat Allah semarah hari itu, Hanya Nabi muhammad yang berpendirian teguh bahwa Allah adalah Maha segalanya. Allah adalah Allah Maha Pencipta, sedangkan waktu adalah mahkluk, ciptaan Allah. Maka tidak mungkin yang Maha Pencipta mengikuti aturan makhluk yaitu waktu. Saat semua manusia merasa tidak ada waktu lagi, sudah finish, tidak berguna lagi ibadah. Saat itulah ibadah Nabi Muhammad berupa Sujud yang lama membuahkan hasil

Jamaah Tahlil Bumi Palapa tentu faham cerita yang terakhir ini, bahwa mati bukan akhir ibadah. Meski tidak seperti level Nabi, namun selama masih hidup tentu bisa mendoakan yang sudah mati.

 

 

Khusus alinea ini jangan dibaca ya…

Terkadang saya heran dengan diri saya sendiri

Kenapa kok saya sepertinya sering mengucapkan kata adzab, siksa dan neraka

Kenapa kok ada perasaan gloriuous kalo ada yang kena adzab, siksa dan neraka

Saya jadi bertanya tanya…. kok sepertinya saya lebih mirip umat Nabi Nuh dibanding Nabi Muhammad

 

 

 

NN - BP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mad jari sholat di masjid kampung

Ya Allah Hu Ya Robbi tuntun lidahku dalam keharuman melatiMu ketika ku bicara

Cara Mudah Sholat Khusyu'